Bu

Ibu-Ok

Bu.

Bersama derai gerimis,

Beriring harmoni kicau jangrik.

Aku tulis puisi ini kepada Tuhan. Kepada dzat yang kini kau disisi-Nya.

Ah, sekadar pelepas rindu, se-dasawarsa kepergianmu.

 

Bu.

Embun dingin dimataku meluap,

Bersama derai tangis awan, musim angin berkabut,

Serta segelas teh hangat yang hampir dingin.

 

Aku meneguk rindu manakala kuteguk perlahan teh hangat yang hampir dingin itu.

Didalam gelas refleksi wajah tirusmu membias hingga ke bola mata

Sontak ingatanku melompat-lompat  mundur ke se-dasawarsa lalu,

Kala terakhir ku liat wajah penuh ikhlas itu tersenyum,

Kala terakhir kurasakan tangan lembut itu merangkul pundakku.

Maka sontak embun dingin dimataku meluap

Derai keringat diam-diam mengucur dibalik pelipis baju.

Dia malu-malu, mungkin tak mau tetes hujan diluar sana cemburu.

 

Ibu.

Saat ini dua dasawarsa sudah batang usiaku.

Kau tau,

Dasawarsa pertama pastilah usia terbahagia sepanjang hayatku..

Masa kala aku menyusu peluh, menerima kasih utuh

Masa kala rangkakanku kau latih

Hingga aku mampu berdiri.

Hingga aku sanggup berlari.

 

Ibu.

Tentang dasawarsa pertama dan yang disebut masa lalu

Hingga dasawarsa terakhir di batang usia ini,

Terima kasih atas benih-benih keikhlasan yang telah kau semaikan.

Di rahimmu, kau dan aku bertaruh nyawa.

 

Qori Ahmad Solihin

Teknik Mesin 

Angkatan 2012

 

 

 

About Qori Ahmad Solihin

Check Also

UKS Unand Adakan Launching Festival Tari Mahasiswa Nasional (Variasi) II

Dengan di nobatkannya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Unand sebagai koreografer terbaik dan penyaji terbaik ...

Komentar Pembaca